Gamelan Degung

0 1343
banner 468x60
banner 160x600

tasikmalaya

Istilah Degung berawal dari perangkat waditra (instument) pukul berbentuk enam buah penclon (Sedikit lebih kecil dari kempul), digantungkan secara berderet pada rancak khusus. Sampai sekarang nama perangkat gamelan tersebut dikenal dengan sebutan Gamelan Degung.

Pada mulanya gamelan degung hanya dipergunakan dilingkungan kaum bangsawan. Salah seorang penggembarnya adalah R.A.A Wiranatah Kusumah, yakni bupati bandung jawabarat Indonesia sebelum perang dunia kedua, Salah saru lagu atau gending yang direkam dari gamelan degung miliknya, kini sering dipergunakan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) Bandung, untuk memberi info pembacaan berita daerah.

Pada zaman penjajahan Belanda diseluruh kabupaten bandung terdapat 5 perangkat gamelan degung. Di Kabupaten lain di Jawa Barat diantaranya terdapat di Sumedang satu perangkat gamelan degung, di Cianjur Lima perangkat gamelan degung, dan di Tasikmalaya dua perangkat gamelan degung.

Karena gamelan degung digemari oleh ratu panggung Bupati maka timbulah anggapan bahwa istilah degung berasal dari kata “Ratu Agung” atau Tumenggung yaitu Gelar Bupati pada zaman dahulu. Gamelan Degung dapat dikatakan sebagai gamelan khas pasundan jawa barat Indonesia, yang tentang kapan awal keberadaanya, dimana, dan siapa penciptanya sampai sekarang tidak ada keterangan yang jelas. Semuala susunan waditra gamelan degung sangat sederhana, yaitu tanpa menggunakan suling, peking, kendang dan alat pendukung lain seperti kacapi yang sering ditemui pada sajian gamelan degung sekarang. Reportoar lagu atau gendingnyapun masih terbatas, antara lain lagu Ayun Ambing, Bale Bandung, dan Galatik Manggut.

Pada masa pemerintahan Bupati R.A.A Wiranata Kusumah yang mendapat julukan Dalem Haji. Susunan waditra gamelan degung dilengkapi dengan suling, kendang, dan peking. Inisiatif tersebut atas usaha kreativitas Abah Ijam bersama putra-putranya, Yakni Abah Idi, Abah Ojo, dan Abah Atma. Adapun para Wiyaga (Pemain gamelan degung) yang sudah dikenal sebelum penambahan waditra gamelan degung tersebut antara lain : Abah Emus, Abah Darma, Abah Dira, Abah Muhadi, Abah Asma Andut, Abah Emad, Abah Asmadi, Anah Adikarta, Abah Sutarma Adis, dan Abah Emung. Di Tasikmalaya pimpinan gamelan degung Kabupaten pada waktu itu Abah Iwi, dan di Cianjur Abah Ahim.

Pada tahun 20-an perkembangan Gamelan Degung dan perhatiannya semakin meningkat, sehingga orang yang dapat memainkan gamelan degungmemiliki kebanggaan tersendiri. Juru gending yang dikenalpun semakin bertambah, antara lain adalah : Abah jono, Abah Salnapi, Abah Sumanta, Abah Karta Eben, Abah Djamhuri, Bapak Tarya, Bapak Enas, dan Bapak Uye. Mereka bergabung dalam suatu perkumpulan bernama “Purba Sasaka Pamager Sari”, Pada Zaman merekalah reportoar karya gamelan degung semakin bertambah.

Category: Sosial Budaya
Email Autoresponder indonesia
author
No Response

Leave a reply "Gamelan Degung"